Polisi Akan Segera Panggil Ke-14 Panitia Diksar Maut UII Ini Sebagai Saksi

Posted on
Polisi Akan Segera Panggil Pihak Panitia Diksar Mapala UII Sebagai Saksi
Polisi Akan Segera Panggil Pihak Panitia Diksar Mapala UII Sebagai Saksi

Indobaa.com

Pihak kepolisian Karanganyar, Jawa Tengah, berencana untuk memanggil beberapa dari panitia Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) The Great Camping (TGC), yang menimbulkan kematian tiga Mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Mereka rencananya akan dipanggil pada hari Senin (30/1) mendatang.

Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak menyebutkan bahwa sebenarnya pihak kepolisian telah memberikan surat panggilan kepada 14 anggota panitia diklat tersebut pada Rabu (25/1) kemarin. Akan tetapi, pemanggilan tersebut urung dilakukan karena koordinasi antara kepolisian dan pihak rektorat UII menemui kendala. Penyebabnya Ialah para panitia hanya mau memenuhi panggilan polisi bila ada surat pemanggilan resmi dan ditemani oleh pihak pengacara.

“Hari ini (Rabu kemarin) sebenarnya sudah ada agenda dari penyidik untuk melakukan pemeriksaan terhadap 14 orang panitia untuk diperiksa sebagai seorang saksi. Akan tetapi hasil koordinasi dengan (pihak) rektorat guna menghadirkan mereka menemui kendala, sebab dari ke-14 orang panitia tersebut tidak mau diperiksa jika tidak ada panggilan resmi dari pihak kepolisian. Mereka juga hanya mau didampingi oleh beberapa pengacara,” kata Ade Rabu, 25 Januari 2017.

“Kamis (26/1) akan kita layangkan panggilan resmi untuk kami periksa pada hari Senin mendatang,” lanjutnya.

Ade juga menjelaskan bahwa Diklatsar The Grand Camping (TGC) yang diikuti oleh 37 peserta mahsiswa UII, jumlah itu sudah termasuk ketiga korban yang meninggal, nama-nama korban tersebut yaitu Syaits Asyam (19), Muhammad Fadli (19), dan Ilham Nurfadmi Listia Adi (20). Sedangkan jumlah panitia secara keseluuhan berjumlah 44 orang Panitia. Sampai saat ini, sudah ada 18 peserta yang dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.

“Mereka dibuat dalam lima regu, satu regu berjumlah tujuh sampai delapan orang. Setiap regu diampu oleh tiga atau empat orang seniornya. Kebetulan tiga orang yang meninggal ini berada dalam satu regu yang sama,” ungkap Ade.

“Dari beberapa saksi yang sudah kami periksa, ada hukuman yang meliputi push-up, sit-up, pukulan, tendangan, dan pecutan, untuk mahasiswa yang melanggar” lanjutnya.

Tiga mahasiswa tersebut yaitu Muhammad Fadli (19) dari jurusan Teknik Elektro angkatan tahun 2015, Syaits Asyam (19) dari Teknik Industri, dan Ilham Nurpadmy Listia Adi dari Fakultas Hukum angkatan 2015.