Begini Sindiran Megawati Terhadap Ketua MPR RI

Posted on
Begini Sindiran Megawati Terhadap Ketua MPR RI
Begini Sindiran Megawati Terhadap Ketua MPR RI

Indobaca.com

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) merasa bahwa konsep pembangunan Semesta Berencana belum mendapat respon Ketua MPR Zulkifli Hasan. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyinggung Zulkifli terlalu lama membahas hingga dikhawatirkan tidak ada isinya sama sekali.

Sindiran Megawati terhadap Zulkifli disampaikan ketika berpidato di hari ulang thun ke 44 PDIP di JCC, Jakarta Pusat, Selasa (10/1). Apalagi program pembangunan ini dianggap sudah mengimplementasikan dengan Dasar Negara Kita yaitu Pancasila.

“Ini penting Pak Zul, sebagai Ketua MPR. Dulu kita punya buat pembangunan, kita punya pola pembangunan Semesta Berencana implementasi Pancasila. Saya khawatir terlalu lama dibahas, lama-lama tak ada yang dibahas. Saya tidak tahu bagaimana ini hasilnya,” kata Megawati.

Megawati menyebut Pancasila berisi prinsip dasar, selanjutnya diterjemahkan dalam konstitusi Undang-undang Dasar 1945. Ini kemudian menjadi penuntun sekaligus rambu dalam membuat tiap norma sosial politik. Bahkan produk kebijakan politik tidak boleh bersifat apriori, bahkan harus merupakan keputusan demokratis berdasarkan musyawarah mufakat.

Dengan demikian, lanjut dia, Pancasila sebagai jiwa bangsa tidak memiliki sifat totaliter dan tidak boleh digunakan sebagai tempel legitimasi kekuasaan.

“Pancasila bersifat aktual, dinamis, antisipasif dan mampu menjadi ‘leidstar’, bintang penuntun dan penerang, bagi bangsa Indonesia. Pancasila selalu relevan di dalam menghadapi setiap tantangan yang sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan, serta dinamika aspirasi rakyat,” ujarnya.

Putri Presiden Soekarno ini juga menyebut implementasi Pancasila tidak boleh terlalu kompromistis saat menghadapi sesuatu bertentangan dengan nilai-nilai dasar terkandung di dalamnya. Meskipun demikian, ide dan gagasan harus menjadi konkret, dan agar Pancasila tidak kaku dan keras.

“Dalam merespon keaktualan problematika bangsa, maka instrumen implementasinya pun harus dijabarkan dengan lebih nyata, tanpa bertentangan dengan filsafat pokok dan kepribadian bangsa,” terangnya.